Atasi Mikotoksin dengan Solusi Alami

Atasi Mikotoksin dengan Solusi Alami

Hadir dalam gelaran Indo Livestock 2017 Expo & Forum di Surabaya, Jatim (17-19/5), Olmix mempromosikan produk MT.X+ sebagai mikotoksin binder premium dengan spektrum luas. Perusahaan asal Perancis ter sebut membawa solusi alami berbasis alga untuk nutrisi dan kesehatan hewan, tumbuhan, dan manusia dengan tujuan menciptakan rantai makanan yang sehat, lengkap, dan konsisten.

Selama berlangsungnya pameran, Olmix menyuguhkan produk-produk andalan untuk komoditas peternakan sapi perah, unggas, babi, dan komoditas akua kultur. Selain itu, Olmix juga menyelenggarakan seminar teknis tentang perubahan iklim dan sistem untuk mengelola ri si ko mikotoksin dalam industri pakan.

Faktor Pencetus Mikotoksin

Dalam seminar itu Si-Trung Tran, Tech nical Service Manager Asia, menyampaikan, perubahan iklim bukanlah hal yang baru. Tetapi yang menjadi masalah adalah pengaruhnya terhadap mikotoksin se ka ligus bagaimana cara pengelolaannya.

Doktor lulusan National Polytechnic Institute, Perancis, itu berujar, suhu yang berubah-ubah sepanjang masa sebelum panen akan mempengaruhi konsentrasi mikotoksin pada tanaman bahan baku pakan. Erosi tanah juga ber dampak hilangnya nutrisi pupuk sehingga tanaman kekurangan nutrisi. Akibatnya daya tahan tanaman terha dap serangan cendawan menurun yang bisa mening katkan kandungan mikotoksin. Faktor lain yang mempengaruhi toksisitas mikotoksin, imbuh Si-Trung Tran, adalah spesies hewan, waktu terpapar pakan yang terkontaminasi, umur dan jenis kelamin he wan, serta adanya infeksi bakteri, vi rus atau parasit pada hewan tersebut.

Selain itu, “Pemberian obat yang kurang tepat dan faktor stres karena kondisi lingkungan juga turut mempengaruhi tingkat toksisitas mikotoksin. Adanya dua jenis atau lebih mikotoksin (polikontaminasi) dalam pakan yang sama bisa saling menambahkan dan bersinergi,” ulasnya.

Perlu Toxin Binder

Si-Trung Tran menyebutkan enam poin penting dalam mengelola mikotoksin bagi industri pakan. Pertama, menentukan prevalensi mikotoksin yang ada saat ini. Kedua, memperhatikan bahan pakan yang berisiko terkontaminasi. Misalnya jagung, lebih beri si ko terkena kontaminasi mikotoksin dibandingkan gandum dan bungkil kedelai. Ketiga, merencanakan analisis mikotoksin. Ada dua cara analisis, yakni eva luasi kadar asupan mikotoksin per hewan dengan sampel pakan lengkap atau mengurangi risiko mikotoksin pada pakan dengan bahan baku sebagai sampelnya. Keempat, melakukan analisis mikotok sin di laboratorium andal. Kelima, meng evaluasi risiko mikotoksin pada pa kan yang ada dalam peternakan.

Terakhir, kurangi paparan mikotoksin terhadap ternak. Tran menegaskan, untuk melawan mikotoksin dalam pakan adalah menggunakan toksin binder berspektrum luas lantaran bentuk kontaminasi mikotoksin terus ber kem bang. Berdasarkan penelitian, MT.X+ yang berspektrum luas dengan teknologi yang telah dipatenkan yaitu Amadeite®, terbukti efektif melawan deoksinivalenol (DON) dan fumonisin (FB1), dua jenis mikotoksin yang sulit diikat karena ukuran dan bentuknya. “Selain berspektrum luas dan berbahan alami, MT.X+ tidak mempengaruhi penyerap an nutrisi serta terintegrasi dengan pakan,” tutupnya.