Categories
Main

Jagung Mulai Langka?

Mengamati data Badan Pusat Statistik (BPS), Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Institut Pertanian Bogor menunjukkan produksi jagung dalam 30 tahun terakhir meningkat luar biasa. Pada 2006 – 2017 pertambahan penduduk sekitar 15,28% dan peningkatan produksi jagung 162,72%. “Lajunya eksponensial. Bertentangan dengan teori Malthus (tentang ledakan penduduk). Dalam 10 tahun terakhir peningkatan produksi jagung 10,65 kali pertambahan penduduk,” ujarnya.

Sejak ditutup pada Juli 2015, impor jagung turun drastis tetapi diikuti peningkatan tajam impor gandum. “Produsen pakan ternak berusaha mengganti jagung sehingga terjadi lonjakan impor gandum 3,2 juta ton. Kalau produksi mencukupi, seharusnya ini nggak terjadi,” kritik Andreas pada diskusi Kontroversi Jagung di Jakarta, Selasa (23/5).

Overestimate?

Bila produksi Indonesia tahun ini mencapai 30,5 juta ton, maka akan terjadi surplus 18,3 juta ton. Jika menilik laporan USDA, sambungnya, terjadi overestimate (kelebihan taksir) produksi sebesar 19,6 juta ton pada 2017. USDA memperkirakan suplai jagung tahun ini hanya 10,9 juta ton dan tahun lalu sekitar 10,5 juta ton. Untuk memenuhi kebutuhan, Andreas pun menganjurkan pemerintah untuk segera impor jagung karena akan terjadi defisit 1,3 juta – 1,5 juta ton.

Ketum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) itu menuding ada salah hitung produktivitas dan luas panen jagung nasional yang angkanya 5,2 ton/ha dan 5,8 juta ha. Ia memperkirakan, produktivitas jagung cuma 3 ton/ha dengan luas panen 3,8 juta ha sehingga produksi nasional sekitar 10 juta ton. Sebagai gambaran, Filipina yang menggunakan jagung transgenik pada 0,5 juta ha lahan, produktivitasnya hanya 2,98 ton pipilan kering/ha.

Sementara Amran Sulaiman, Menteri Pertanian mengklaim, di tengah terpaan El Nino dan La Nina pada 2016 produksi jagung bisa mencapai 23,5 juta ton pipilan kering. Ini meningkat 18,1% dibandingkan 2015 (Senin, 5/6).

Tidak Pernah Bohong Mengacu teori pembentukan harga, kata Andreas, produksi jagung 30 juta ton akan menurunkan harga ke level Rp1.000/kg. “Setiap kenaikan stock and use, rasio ini meningkat 10%, harga akan turun 30%. Jadi, harga akan terjerembab sampai Rp1.000/kg dan itu tidak pernah terjadi. Apalagi, sekarang harga jagung naik. Berarti apa? Ini mulai langka,” jelasnya berapi-api.

Askam Sudin, Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) menyatakan, harga jagung Januari lalu berkisar Rp3.800/kg lalu merangkak menjadi Rp4.600-Rp4.800/kg (23/5). Kebutuhan jagung pakan untuk GPMT mencapai 700 ribu ton/bulan dan peternak layer (ayam petelur) sekitar 200 ribu-250 ribu ton/bulan.

Musbar, Presiden Forum Peternak Layer Indonesia menambahkan, pada Januari-April peternak tidak sanggup membeli jagung lokal berkadar air 17% dengan harga Rp4.200-Rp4.400/kg karena harga jual telur di bawah harga pokok penjualan, Rp17.440/kg. Mereka juga kesulitan membeli jagung dari petani karena kalah saing dengan GPMT dan pedagang besar.

Enny Sri Hartati, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menegaskan, “Harga itu nggak pernah bohong. Yang namanya harga adalah demand dan supply, apalagi untuk pangan.” Ia mengkritisi intervensi jagung yang salah sasaran. Intervensi pemerintah untuk memperbaiki kegagalan pasar dan melindungi masyarakat yang berisiko menjadi korban, yakni produsen kecil yang sangat rentan dalam persaingan terbuka dan konsumen berdaya beli rendah.

Konsumen terbesar jagung adalah industri sehingga merekalah yang paling tahu cara mengefisienkan diri. “Jadi, sok tahu banget pemerintah mengatur sektor komersial. Sudah pasti keputusannya salah. Intervensi yang dilakukan itu bukan menghindari kegagalan pasar tapi justru makin distortif,” pungkasnya.