Supaya Agribisnis Punya Daya Tarik Ekonomi

Supaya Agribisnis Punya Daya Tarik Ekonomi

Dr. Enny Sri Hartati, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyatakan, prospek ekonomi Indonesia ke depan masih cukup cerah. Sayangnya, ia menggaris bawahi, pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang sangat minimalis, sebesar 5,1%. “Karena, size ekonomi Indonesia benchmark (standar)-nya saja sudah 5%. Jadi kalau cuma 5,1%, artinya ya sudahlah menyerah pada keadaan,” kritik nya pada Seminar Nasio nal AGRINA Agribusiness Outlook 2017 di Jakarta, Kamis (15/12). Enny mengapresiasi sikap pemerintah yang cenderung realistis menghadapi kondisi ekonomi pada 2017. Meski, tindakan ini memiliki makna tersirat. “Sebenarnya di sana ju ga menyimpan satu persoalan: berarti pemerintah memang tidak mau be kerja keras,” sindirnya pedas.

Agribisnis Mau Ke mana?

Doktor Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian dengan Konsentrasi Ekonomi Pembangunan jebolan Institut Pertanian Bogor ini menjelaskan, salah satu komoditas agribisnis yang mengalami pertumbuhan fantastis adalah sawit. Tahun lalu harga “emas cair” ini masih menggeliat dibanding harga berbagai komoditas agribisnis yang masih lesu, seperti karet. Mengamati potensi yang luar biasa, INDEF bahkan mengusulkan sawit masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) untuk membentuk Undang-undang Perkelapasawitan. “Karena,” ungkap Enny, “Untuk membuat si seksi ini benarbenar optimal, butuh dukungan semua pemangku kepentingan.”

Ia menyarankan, komoditas unggulan agribisnis lain pun diperlakukan seperti sawit. Komoditas agribisnis harus mampu mereplikasi keberhasilan sawit. Jika hal ini dilakukan, “Kita tidak hanya selalu bangga mempunyai produksi yang market share (pangsa pasar)-nya terbesar. Tapi, kita betu lbetul menjadi leader(pemimpin),” ulas perempuan berjilbab itu. Namun, Enny menyayangkan kebijakan pemerintah justru merugikan industri kelapa sawit dengan pemberlakuan moratorium konversi hutan, salah satunya untuk pengembangan sawit. “Moratorium sawit ini memang tidak tepat.

Mestinya, justru bagaimana cara membuat kakao, karet, dan komoditas lain bisa mempunyai daya saing seperti sawit,” ia meluruskan. Lantas, dia pun mempertanyakan arah pembangunan sektor agribisnis ke depan. “Sektor agroindustri kita ini sebenarnya mau dibawa ke mana? Kalau mau maju itu bukannya yang sudah maju dihadang. Tapi, yang belum maju didorong supaya bisa maju seperti yang berhasil,” ungkapnya gemas.